20 Warga Lebong Mengidap HIV/AIDS, Mayoritas Tertular Akibat Seks Berisiko (Bebas)
Bengkulusatu.com, Lebong – HIV/AIDS bukan lagi sekadar berita jauh dari kota besar. Di Kabupaten Lebong, virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini nyata ada di sekitar
kita. Hingga Selasa (28/4/2026), Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat ada 20 kasus aktif yang sedang dalam pantauan ketat, dengan satu tambahan kasus baru yang baru saja terdeteksi.
Data ini bukan sekadar angka di atas kertas. Di baliknya, ada 20 nyawa yang kini harus bergantung pada obat-obatan seumur hidup. Rinciannya cukup mencolok: 14 laki-laki dan 6 perempuan.
Kepala Dinkes Lebong, Rachman, SKM, M.Si, bicara blak-blakan soal pemicunya. Menurutnya, sebagian besar penularan di Lebong berkaitan erat dengan perilaku seksual yang berisiko, seperti seks bebas. Ini adalah kenyataan pahit yang harus diakui jika ingin menekan angka penularan ke depan.
“Faktor utamanya masih perilaku seksual berisiko, termasuk seks bebas. Ini yang jadi penyumbang terbesar kenaikan kasus di Lebong beberapa tahun terakhir,” ujar Rachman saat
dibincangi awak media.
Namun, di tengah kabar kelam tersebut, ada sedikit angin segar terkait akses pengobatan. Jika dulu penderita HIV di Lebong harus sembunyi-sembunyi atau repot berobat ke luar daerah, sekarang ceritanya berbeda. Beberapa puskesmas di Lebong sudah memiliki layanan Pendampingan Dengan Pengobatan (PDP).
“Semua pasien sekarang sudah rutin berobat di wilayah puskesmas masing-masing. Mereka tidak perlu lagi dirujuk keluar daerah. Ini penting supaya mereka disiplin minum obat dan kualitas hidupnya terjaga,” tambahnya.
Rachman menekankan bahwa HIV memang belum ada obatnya, tapi bukan berarti hidup berakhir. Dengan pengobatan rutin, virus bisa ditekan sehingga pasien tetap bisa hidup produktif. Masalahnya, penderita HIV sangat rentan jika memiliki penyakit penyerta, sehingga deteksi dini menjadi harga mati.
Untuk itu, Dinkes Lebong kini lebih agresif mengincar kelompok risiko tinggi dan anak muda. Pesannya jelas dan tegas: hindari seks bebas dan setia pada pasangan.
“Kami imbau masyarakat, terutama remaja, jangan main-main dengan perilaku seks berisiko. Kami juga dorong mereka yang merasa punya risiko tinggi untuk berani tes secara sukarela. Lebih cepat tahu, lebih cepat ditangani,” tegas Rachman.
Ke depan, tantangan Dinkes bukan hanya soal menyediakan obat, tapi juga menghapus stigma di masyarakat. Harapannya, dengan edukasi yang jujur dan layanan yang mudah diakses, angka penularan di Lebong bisa ditekan dan mereka yang sudah terpapar tidak lagi merasa terasing di tanah sendiri. [trf]




