Menjemput Harapan di Ujung Jari: Mengintip Fenomena ‘Terapi Lebong’ yang Viral Hingga Luar Daerah
Bengkulusatu.com, Lebong – Sehat itu mahal, tapi bagi mereka yang sedang berjuang melawan sakit, kesehatan adalah segalanya. Tak heran jika banyak orang rela menempuh jalan apa pun, mulai dari meja operasi hingga ke sudut-sudut desa mencari pengobatan alternatif. Di Kabupaten Lebong, sebuah fenomena pengobatan kini tengah menjadi buah bibir, bukan hanya di warung kopi, tapi juga berseliweran di linimasa media sosial.
Namanya “Terapi Lebong”. Bertempat di Desa Karang Anyar, Kecamatan Lebong Tengah, Kabupaten Lebong, praktik pengobatan milik Rahmat Firdaus ini mendadak menjadi magnet bagi warga yang haus akan kesembuhan. Lewat video-video yang viral dan masuk ke halaman For Your Page (FYP) di TikTok maupun Facebook, ribuan pasang mata menyaksikan momen-momen mengharukan saat pasien mulai kembali bergerak.
Setiap harinya, tak kurang dari 70 pasien mengantre di sana. Mereka datang dari berbagai penjuru; mulai dari tetangga kabupaten seperti Rejang Lebong dan Bengkulu Utara, hingga mereka yang jauh-jauh menempuh perjalanan dari Kota Bengkulu.
“Semua itu kuasa Allah, saya ini hanya perantara saja,” ujar Rahmat Firdaus mengawali obrolan, Kamis (21/6/2026).

Pria yang akrab disapa Firdaus atau Daus ini tampak bersahaja meski namanya tengah naik daun. “Saya tidak pernah mengundang mereka secara khusus, mungkin karena video yang viral itu, jadi banyak yang datang dengan harapan bisa sembuh,” tambahnya.
Metode yang digunakan Firdaus sebenarnya sederhana namun unik: totok syaraf. Namun, ada yang ganjil saat melihatnya beraksi. Hanya dengan sentuhan satu jari, pasien kerap bereaksi seolah tubuhnya dialiri arus listrik. Rasa “setrum” itu muncul justru saat ujung jari Firdaus menekan titik-titik syaraf tertentu yang dianggap bermasalah.
Bukan hanya soal sensasi setrumnya yang bikin penasaran, tapi testimoni yang beredar di lapangan memang cukup menggetarkan. Firdaus menangani beragam keluhan berat, mulai dari stroke, syaraf terjepit, hingga masalah tulang belikat. Bahkan, beberapa kasus pasien yang kehilangan fungsi bicara (bisu), penglihatan (buta), hingga pendengaran (tuli) coba ia urai lewat saraf-saraf yang kaku.
“Atas izin Allah, ada pasien yang buta dan bisu, Alhamdulillah bisa melihat dan bicara lagi. Ada juga yang lumpuh, sekali terapi langsung bisa jalan lagi. Tapi sekali lagi, itu semua karena izin yang di Atas,” tutur Firdaus merendah.
Meski begitu, ia tetap menekankan pentingnya observasi. Setiap pasien yang datang akan melalui tahap terapi syaraf awal untuk melihat sejauh mana kerusakan yang terjadi dan apakah diperlukan penanganan lanjutan atau tidak. Baginya, setiap tekanan jari adalah sebuah ikhtiar untuk menjemput kesembuhan bagi mereka yang sudah hampir menyerah pada penyakitnya.
Mengingat membludaknya jumlah pasien yang datang setiap hari, pihak manajemen Terapi Lebong sangat menyarankan agar pasien mendaftar terlebih dahulu. Antrean yang panjang menuntut kesabaran, namun bagi banyak keluarga, penantian itu sepadan dengan harapan yang dibawa pulang.

Bagi masyarakat yang ingin mencoba ikhtiar ini, pendaftaran bisa dilakukan secara langsung di Desa Karang Anyar atau melalui admin di nomor 085142582614 dan 082256256327.
Praktik Terapi Lebong buka setiap hari Sabtu hingga Kamis, mulai pukul 09.00 WIB pagi hingga pukul 22.00 WIB malam. Perlu dicatat, Bang Rahmat meliburkan jadwal praktiknya khusus di hari Jumat untuk beristirahat dan keperluan ibadah.
Di tengah hiruk-pikuk pengobatan modern, Terapi Lebong hadir sebagai alternatif yang menawarkan sentuhan personal dan spiritual. Bagi warga, tempat ini bukan sekadar klinik, melainkan ruang tunggu di mana doa dan usaha bertemu di ujung jari sang terapis. [trf]




