Artikel & Opini

Adanya Kebahagian Tergantung Pada Sudut Pandang Yang Kamu Ciptakan

Sering kali kita mendapatkan nasehat, agar tatkala melihat sesuatu di lakukan lewat berbagai sudut pandang. Dengan melihat dari sudut pandang yang luas, maka artinya sesuatu yang sedang kita lihat akan menjadi semakin jelas. Sehingga umpama akan melakukan sesuatu terhadap apa yang kita lihat dan pahami itu, sudah di perhitungkan berbagai kemungkinan dan resikonya.

Di kalangan umat islam pada umumnya orang tatkala melihat sesuatu, sering kali dari sudut pandang fiqih atau aqidah. Cara seperti itu sesungguhnya benar, dan seharusnya memang demikian.

Orang harus tau, bagaimana hukum sesuatu sebelum di miliki dan di gunakannya. Hanya saja , melihat apa saja dari sudut pandang fiqih, biasanya hanya terbatas menghasilkan kesimpulan antara wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

Dalam kajian islam masih ada lagi sudut pandang lainnya untuk melihat sesuatu, terutama terkait dengan perilaku, ialah sudut pandang Akhlak atau Tasawwuf. Biasanya cara melihat sesuatu dari sudut pandang ini, hasilnya tidak banyak di perdebatkan orang. Sebab tatkala berbicara dari sudut pandang akhlak atau tasawwuf, maka selalu berujung pada konsep-konsep yang memang tidak perlu di perdebatkan lagi , misalnya sabar, ikhlas, tawadhu,qona’ah, istiqomah, tawakkal, dan seterusnya.

Maka silahkan sajalah, melihat sesuatu dari mana saja. Semakain banyak sudut pandang yang di gunakan, sesuatu yang di lihat itu semakin jelas. Hanya satu hal saja yang tidak di bolehkan, ialah tatkala masing -masing melihat dari sudut pandang yang berbeda dan menghasilkan kesimpulan bersitegang dan apalagi saling memutus tali silaturakhim. Wallahua’lam.

Analogi_ alkisah, ada dua penyair yang di jebloskan kedalam penjara pada saat terjadi revolusi prancis. Beberapa saat setelah di penjara, salah seorang penyair menatap bintang-bintang dan tertawa, sedangkan yang lain memandangi lantai jalanan dan ia terus menagis.

Dalam hal ini, tempat dan permaslahan yang mereka berdua hadapi adalah sama, hanya saja cara pandang mereka berbeda.
Orang yang pertama menatap ke atas, tempat bintang-bintang yang indah bertaburan, tinggi menjulang, dan berkilau. Hasilnya dia merasakan kebahagian menelusup ke relung jiwanyahingga dia dapat tertawa karena melihat ke elokan alam semesta.

Sementara itu orang ke dua memandang ke bawah, tempat lantai di injak-injak orang, tanah yang tidak pernah berada di atas dan hasilnya ia semakin merasa gelisah dan pesimis.

Demikian juga halnya dengan seluruh umat manusia saat berhadapan dengan orang lain atau di landa sebuah maslah ada sebagian orang yang melihat sisi positif dan kelebihan orang lain sehingga dirinya ikut senang. Namun, ada juga yang melihat sisi negatif dan kekurangan- kekurangan orang lain sehingga kebencian bersemayam di dalam hatinya.

Berhubungan dengan hal ini, kami ingin menyampaikan petuah berharga, “ lihatlah air yang mengisi setengah gelas, tataplah bintang-bintang dan lupakanlah kegelapan yang menyelimutinya, ingatlah baik-baik bahwa allah itu indah, lagi menyukai segala keindahan, alam semesta pun sangat menarik, langit cerah, matahari begitu terang.

Maka, jadilah seorang yang indah dan menarik agar dapat menatap keindahan.” Selebihnya jiwa dan hati yang indah adalah jiwa dan hati yang bersih dan penuh dengan ketulusan serta keridhoan. Sedangkan jiwa dan hati yang buram adalah jiwa dan hati yang penuh dengan lumuran dosa serta berbagai kesalahan.

Referensi : Faizin nur- 2014. 99 renungan malam seorang muslim. Al-quds. Surakarta.

Oleh :
Desi Purnama Hayati
Viona Rosalena
Rini Saputri
Citra Lara Pratama
Gita Oktami
Tania Pransiska
Sendi Andika

Jurusan/Fakultas : BKI / FUAD
Semester : V
Mata kuliah : Bimbingan Penyuluhan Islam
Dosen pengampu : Asti Haryati, m.pd

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button