Update : Pasien Keracunan MBG Lebong Bertambah Lagi, Tercatat 341 Siswa dan 3 Guru Dirawat

Bengkulusatu.com, Lebong – Niat mulia untuk menyehatkan anak bangsa berubah menjadi malapetaka kemanusiaan di Kabupaten Lebong. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diduga menjadi penyebab keracunan massal dahsyat yang membuat 341 siswa dan 3 orang guru tumbang serentak pada Rabu (27/8/2025).
Fasilitas kesehatan RSUD Lebong mesti menghadapi hantaman ‘tsunami’ pasien, sementara ribuan porsi makanan lain yang telah dibagikan menjadi bom waktu yang mengancam jatuhnya lebih banyak korban.
Suasana riang gembira di sekolah-sekolah mendadak berubah menjadi jerit tangis dan kepanikan luar biasa pada Selasa sore. Satu per satu, siswa dari berbagai sekolah dasar mulai tumbang dengan gejala keracunan yang serupa: perut melilit, pusing, mual, dan muntah-muntah. Penyebabnya diduga kuat berasal dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mereka konsumsi pada jam istirahat sekolah.
Data yang terus bergerak bak jarum speedometer rusak, menunjukkan eskalasi krisis yang mengerikan. Dari angka awal 248 korban, data terbaru yang dihimpun hingga pukul 20.30 WIB mencatat total 344 korban jiwa telah teridentifikasi. Angka ini diperkirakan akan terus meroket.
Pusat penanganan bencana ini, RSUD Lebong, kini berada di titik Belum pernah terjadi sebelumnya. Sebanyak 308 korban (305 siswa dan 3 guru) membanjiri rumah sakit, memaksa manajemen mengubah setiap jengkal ruang menjadi bangsal perawatan darurat.
Pemandangan di lokasi sungguh memilukan, dengan pasien tersebar di hampir seluruh penjuru rumah sakit. Secara rinci detail Jumlah Korban Keracunan MBG hingga pukul 20.30 WIB sebagai berikut :
1. RSUD Lebong (Total: 308 Pasien)
Menjadi pusat penanganan utama dengan menampung total 305 siswa dan 3 guru. Para pasien ini tersebar di hampir seluruh ruangan yang tersedia di rumah sakit, sebagai berikut:
- Gedung Perawatan Anak L2: 64 siswa
- Gedung Anggrek: 60 siswa
- Gedung Rawat Inap Anak: 40 siswa
- Gedung Aglonema: 40 siswa & 3 guru
- Ruang Kebidanan: 27 siswa
- Ruang Aster: 22 siswa
- Ruang Poli Bawah: 17 siswa
- Lantai 1 (Ruang tak spesifik): 14 siswa
- Unit Gawat Darurat (UGD): 11 siswa
- Ruang Poli: 10 siswa
2. Puskesmas Semelako, Kec. Lebong Tengah (Total: 32 Pasien)
Menjadi fasilitas kesehatan kedua yang menangani korban terbanyak, dengan total 32 siswa. Rinciannya adalah:
- Rawat Inap: 23 siswa
- Rawat Jalan (Sudah Pulang): 9 siswa
3. Puskesmas Lemeu Pit, Kec. Lebong Sakti (Total: 3 Pasien)
Menangani 3 siswa dengan gejala yang lebih ringan. Semua pasien ditangani dengan status:
- Rawat Jalan: 3 siswa
4. Puskesmas Muara Aman, Kec. Lebong Utara (Total: 1 Pasien)
Menangani 1 siswa dengan gejala ringan yang sudah diizinkan pulang. Statusnya adalah:
- Rawat Jalan (Sudah Pulang): 1 siswa
Rekapitulasi Total Korban
- RSUD Lebong: 308 orang (305 siswa, 3 guru)
- Puskesmas Semelako: 32 orang (32 siswa)
- Puskesmas Lemeu Pit: 3 orang (3 siswa)
- Puskesmas Muara Aman: 1 orang (1 siswa)
Total Keseluruhan: 344 Korban (341 Siswa + 3 Guru)
Kengerian tidak berhenti di angka 344. Sebuah informasi krusial kini menjadi sumber kecemasan baru, sekitar 2.300 porsi makanan dari sumber yang sama telah didistribusikan pada hari nahas itu. Artinya, jumlah korban yang ada saat ini mungkin hanyalah puncak dari gunung es. Ribuan anak lainnya di pelosok-pelosok desa yang telah menyantap menu yang sama, berpotensi menjadi korban berikutnya.
“Ini yang kami khawatirkan. Bisa jadi masih banyak anak di rumah yang mengalami gejala tapi belum sempat dibawa ke rumah sakit. Angka ini bisa meledak kapan saja,” ungkap seorang sumber di lokasi.
Menghadapi skala bencana yang masif, seluruh elemen pemerintah dan aparat keamanan turun tangan. Puluhan personel dari Polres Lebong, Polsek Lebong Tengah, dan Polsek Lebong Selatan disiagakan untuk mengamankan RSUD Lebong dari kerumunan massa yang panik.
Satlantas Polres Lebong bekerja keras mengurai kemacetan parah di Simpang Tugu Tani, jalur utama menuju rumah sakit. Sementara itu, BPBD Lebong telah bergerak cepat mendirikan tenda-tenda darurat di halaman depan RSUD, bersiap untuk lonjakan pasien yang diperkirakan akan terus terjadi sepanjang malam.
Pihak berwenang telah mengamankan sampel makanan untuk diuji di laboratorium guna memastikan sumber dan jenis racun yang terkandung di dalamnya. Penyelidikan kini mengarah pada pihak penyedia katering dan seluruh rantai pasok program MBG.
Malam di Lebong diselimuti duka dan kecemasan. Program yang digadang-gadang menjadi solusi gizi kini justru menjadi sumber petaka.
Sementara para tenaga medis berjuang menyelamatkan nyawa, ribuan keluarga lainnya kini hidup dalam ketakutan, menanti apakah anak mereka akan menjadi korban selanjutnya. Tragedi ini bukan hanya menuntut pertanggungjawaban hukum, tetapi juga evaluasi total atas program vital yang pelaksanaannya ternyata bisa berakibat fatal. [trf]