Korban Tembus 450, Wagub Minta Dapur Umum Ditutup Total, Kepala Dapur Bersikukuh Makanan Layak

Bengkulusatu.com, Lebong – Kabut hitam keracunan massal akibat program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lebong semakin pekat, menyeret lebih dari sekadar angka korban. Hingga Kamis (28/8/2025), jumlah pelajar yang jatuh sakit telah membengkak menjadi 450 orang, memicu seruan keras Wakil Gubernur Bengkulu Ir. Mian untuk menghentikan total seluruh operasional dapur umum MBG.
Di sisi lain, Kepala Dapur Umum MBG wilayah Lebong, Bartin Azib, bersikukuh bahwa makanan yang didistribusikan sudah melalui standar pengecekan ketat dan layak konsumsi, menciptakan narasi yang saling bertolak belakang di tengah kepanikan warga.
Angka 450 pelajar yang kini menjadi korban keracunan adalah bukti nyata betapa seriusnya krisis ini. Dari jumlah tersebut, RSUD Lebong masih merawat 364 siswa secara intensif, sementara 70 lainnya telah diperbolehkan pulang dengan status perawatan jalan. Namun, ketegangan belum mereda. Perkiraan sementara menyebutkan bahwa total korban bisa menembus angka 500 orang, menambah daftar panjang kegagalan fatal program yang seharusnya menyehatkan generasi muda.
Menyikapi urgensi ini, aparat penegak hukum bergerak cepat. Polres Lebong telah resmi menyegel dapur umum MBG di Desa Lemeu Pit, Kecamatan Lebong Sakti, lokasi yang diduga menjadi episentrum masalah. Ketua dapur umum bahkan kabarnya telah diamankan untuk dimintai keterangan. Kapolda Bengkulu Irjen Pol Mardiyono menegaskan tidak akan main-main.
“Dapur umum sudah kita segel. Ketua dapur juga sudah diamankan untuk pemeriksaan. Kita tunggu hasil penyelidikan lebih lanjut,” tegas Kapolda saat meninjau langsung para korban.
Tekanan untuk akuntabilitas semakin menguat dengan desakan dari Wakil Gubernur Bengkulu, Ir. Mian. Ia tidak hanya meminta pengusutan tuntas, tetapi juga menuntut penghentian sementara seluruh aktivitas dapur umum MBG demi mencegah jatuhnya korban baru.
“Untuk mencegah korban baru, dapur umum harus ditutup dan dihentikan operasinya. Kami juga minta aparat segera mengungkap penyebab keracunan dan menindak tegas pihak yang bertanggung jawab,” kata Wagub Mian, menunjukkan keseriusan pemerintah provinsi.
Namun, di tengah gelombang tuntutan ini, Kepala Dapur Umum MBG Wilayah Lebong, Bartin Azib, angkat bicara dengan pembelaan. Bartin mengklaim pihaknya telah melakukan pengecekan berlapis sebelum makanan didistribusikan, melibatkan Kepala SPPG dari BGN, ahli gizi, dan dirinya sendiri.
“Semua makanan dalam kondisi baik dan layak konsumsi. Bahkan sudah dicoba langsung oleh Kepala SPPG dan tidak menimbulkan masalah. Namun apa yang terjadi di lapangan di luar kuasa kami,” ujarnya, pernyataannya ini kontradiktif dan berpotensi memicu keraguan publik serta memperumit penyelidikan.
Kini, bola panas “Gizi Beracun” ini berada di tangan aparat penegak hukum. Seluruh biaya pengobatan korban memang ditanggung Pemkab Lebong, namun hal itu tak cukup meredakan kemarahan dan kekhawatiran masyarakat.
Warga Lebong mendesak agar penyelidikan dilakukan secara transparan dan tuntas, tidak hanya untuk menemukan siapa yang bertanggung jawab, tetapi juga untuk memastikan kejadian serupa tidak akan pernah menimpa anak-anak sekolah mereka lagi. Pertanyaan besar yang kini menggantung adalah, jika makanan sudah layak konsumsi seperti klaim Bartin Azib, lantas mengapa ratusan pelajar tumbang? Jawaban atas misteri ini akan menjadi kunci akuntabilitas dan keadilan bagi Lebong. [trf]