Daerah

Prihatin dan Peduli Keracunan Massal, GBNN Lebong Desak Pihak MBG Tanggung Jawab

Bengkulusatu.com, Lebong – Gema tuntutan pertanggungjawaban atas tragedi keracunan massal di Lebong mulai bergemuruh. Ratusan siswa tumbang akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG), Ormas Gerakan Bela Negara Nasional (GBNN) Kabupaten Lebong menggedor pintu akuntabilitas, mendesak penyelenggara program untuk menyerahkan “kepala” yang paling bertanggung jawab untuk diproses secara hukum.

Di tengah isak tangis para orang tua dan hiruk pikuk penanganan medis di RSUD Lebong, suara lantang datang dari organisasi masyarakat. Pada Rabu (27/8/2025), Ketua GBNN Lebong, Firdaus, secara tegas menyatakan bahwa insiden yang melumpuhkan ratusan generasi penerus bangsa ini tidak boleh berakhir hanya dengan permintaan maaf.

Menurutnya, skala bencana yang begitu masif telah menjadikan insiden ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) yang mencoreng wajah dunia pendidikan dan program pemerintah di Lebong.

“Ini adalah KLB, sebuah tragedi kemanusiaan di tanah kita sendiri. Kejadian ini tidak mungkin terjadi begitu saja. Apakah ini kelalaian fatal? Tentu perlu pembuktian dan penyelidikan mendalam,” tegas Firdaus saat memantau langsung kondisi para korban di RSUD Lebong, Rabu (27/08/2025) sore.

Ia menambahkan, apapun alibi dan alasannya, tanggung jawab mutlak berada di pundak penyelenggara MBG.

“Tidak ada alasan, tidak ada negosiasi. Seperti apapun kondisinya nanti, pihak pengelola MBG Kabupaten Lebong harus bertanggung jawab penuh atas insiden memilukan ini,” serunya.

Ketua GBNN Lebong saat menyambangi korban keracunan massal yang sedang dirawat di RSUD Lebong

Di tengah tuntutannya yang keras, Firdaus juga menyampaikan keprihatinan mendalam GBNN kepada seluruh korban dan keluarga. Ia terlihat berdialog dengan beberapa orang tua, memberikan dukungan moril dan doa.

“Hati kami hancur melihat anak-anak ini terbaring lemas. Kami turut prihatin dan berdoa semoga tidak ada korban jiwa. Ini adalah duka kita bersama,” ungkapnya.

Ia juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh tenaga kesehatan di RSUD Lebong yang telah bekerja di luar batas kemampuan mereka.

“Dedikasi para dokter dan perawat ini luar biasa. Di tengah kelelahan, mereka bergerak cepat seperti pahlawan tanpa tanda jasa. Kita salut pada mereka,” tambahnya.

Kepada para orang tua yang diliputi kecemasan, Firdaus mengimbau agar tetap tenang, mempercayakan penanganan medis kepada ahlinya, dan tidak terprovokasi untuk melakukan tindakan anarkis.

“Fokus kita saat ini adalah kesembuhan anak-anak kita. Tetap sabar dan jangan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan,” pesannya.

Pesan terakhir dan yang paling tajam dari GBNN ditujukan langsung kepada aparat penegak hukum. Firdaus mendesak Polres Lebong untuk tidak menganggap kasus ini sebagai kelalaian biasa. Menurutnya, harus ada penyelidikan tuntas untuk menemukan tersangka utama di balik tragedi ini.

“Kasus ini harus diusut tuntas sampai ke akarnya! Siapa yang memasak? Siapa yang mengawasi? Siapa yang menandatangani kontrak? Semua harus diperiksa. Jangan biarkan tragedi ini terulang,” tegasnya.

Ia berharap, proses hukum yang tegas akan menjadi pelajaran pahit bagi semua pihak, terutama penyelenggara program MBG, agar tidak lagi bermain-main dengan nyawa dan masa depan generasi bangsa.

Tuntutan dari GBNN ini menjadi representasi kemarahan publik yang semakin memuncak. Kini, mata masyarakat Lebong tertuju pada dua institusi, penyelenggara MBG yang didesak untuk bertanggung jawab, dan Polres Lebong yang ditantang untuk membuktikan ketajamannya dalam mengungkap kebenaran di balik makanan bergizi yang berubah menjadi racun. [trf]

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button