Daerah

Update: Tercatat 284 Anak di Lebong Keracunan Makan Bergizi Gratis, Kondisi RSUD Membludak!

Bengkulusatu.com, Lebong – Lebong Gempar! Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi penopang gizi anak-anak, justru berbuah petaka. Sebanyak 284 anak dari berbagai tingkatan sekolah di Kabupaten Lebong, Bengkulu, terpaksa dilarikan ke rumah sakit dan puskesmas setelah mengalami mual, muntah, hingga lemas parah.

Insiden yang terjadi pada Rabu (27/8/2025) ini sontak memicu kepanikan massal dan sorotan tajam terhadap kualitas program pemerintah yang melibatkan nasib generasi penerus.

Data terbaru menunjukkan peningkatan drastis jumlah korban. Jika pada pukul 16.00 WIB tercatat 237 pasien, hanya dalam satu setengah jam, angka itu melonjak menjadi 284 anak. Ratusan pasien ini berasal dari Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar di wilayah Lebong Sakti.

Pemandangan di RSUD Lebong sungguh memilukan. Ruang rawat inap membludak, tak mampu menampung seluruh pasien. Anak-anak yang seharusnya bermain ceria, kini terbaring lemah dengan infus terpasang.

Data hingga pukul 17.30 WIB menunjukkan 253 anak dirawat di RSUD Lebong, menempati hampir seluruh sudut rumah sakit: dari ruang poli, selasar gedung Alamanda, hingga gedung aula, anggrek, aglonema, dan bahkan unit intensif anak (PICU).

Sementara itu, 29 anak lainnya dirawat di Puskesmas Semelako, dan 1 anak sempat dirawat di Puskesmas Muara Aman sebelum diperbolehkan pulang. Total 283 anak masih menjalani perawatan, sementara 1 anak di RSUD Lebong juga telah diizinkan pulang.

Kapolres Lebong, AKBP Agoeng Ramadhani, SH., SIK., menegaskan bahwa seluruh pihak terkait telah bergerak cepat.

“Hari ini kita ada musibah, anak-anak diindikasikan keracunan makanan,” ujarnya, Rabu (27/8/2025).

Ia menambahkan bahwa TNI, pihak rumah sakit, dan instansi terkait telah berupaya maksimal demi kesembuhan anak-anak. Kapolres juga memastikan bahwa kondisi seluruh siswa stabil dan tidak ada yang gawat, meskipun masih diinfus karena banyak cairan tubuh yang keluar akibat muntah.

Untuk mengungkap penyebab pasti keracunan ini, Dinas Kesehatan bersama Polres Lebong telah mengambil sampel makanan dari dapur penyedia MBG yang terletak di Desa Limau Pit, Kecamatan Lebong Sakti. Sampel muntahan siswa dan sisa makanan juga telah dikirim ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bengkulu untuk uji laboratorium.

Kepala Bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUD Lebong, Gian Septhayudi, S.Kep., M.KM, menuturkan, “Pemeriksaan laboratorium di BPOM diharapkan bisa memberikan kepastian penyebab keracunan ini. Kami masih menunggu hasil resminya.”

Hasil uji ini akan menjadi kunci untuk menentukan apakah keracunan dipicu makanan basi, kadaluwarsa, atau faktor lain.

Di tengah hiruk pikuk penanganan korban, satu pertanyaan besar menggantung: di mana keberadaan pihak pengelola program MBG Kabupaten Lebong? Hingga kini, batang hidung mereka tak terlihat. Dapur MBG di Desa Limau Pit pun terpantau kosong, menyisakan tanda tanya besar dan kekhawatiran publik.

Meskipun demikian, ada secercah harapan. Gian Septhayudi menyatakan bahwa sebagian besar siswa dilaporkan sudah menunjukkan kondisi membaik.

“Insya Allah, besok anak-anak sudah bisa dipulangkan dan kembali berkumpul bersama keluarga,” imbuhnya.

Kapolres Lebong juga mengimbau agar keluarga siswa yang mendampingi tetap menjaga ketertiban di rumah sakit demi kelancaran proses perawatan.

Tragedi keracunan massal ini menjadi tamparan keras bagi pelaksanaan program MBG. Publik menanti tidak hanya kesembuhan total ratusan anak-anak Lebong, tetapi juga pertanggungjawaban penuh dari pihak-pihak terkait. Hasil uji laboratorium BPOM akan menjadi penentu langkah selanjutnya, apakah akan ada sanksi tegas, perbaikan sistem, atau bahkan pengusutan pidana terhadap pihak yang bertanggung jawab atas kejadian memilukan ini. [Trf]

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button